RAHASIA YANG HARUS DIKETAHUI KAUM
MUSLIMIN
Download
disini:
https://www.dropbox.com/s/ixdctc9w9h7c6wq/KAFIR%2C%20YAHUDI%20DAN%20NASRANI.rar
JAWABAN
SAYA:
1. Istilah
kafir:
Bung Lontar,
sekalipun kata-kata "kafir" diambil dari bahasa Arab, namun pengertian "kafir"
sesungguhnya sudah
dirumuskan ALLAH sejak di zaman nabi Musa, yaitu untuk menyebut
bangsa-bangsa non
Yahudi. Jadi, kafir itu artinya adalah orang-orang non Yahudi yang tidak
menyembah kepada
ALLAH Yahudi.
Tapi kini
kelihatannya istilah itu digunakan sebagai senjata untuk memakan tuannya, yaitu
untuk
menyebut orang-orang
non Islam, yaitu yang tidak menyembah ALLAH Islam.
>> Bilangan 23:9 Sebab
dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit
aku
memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak
mau
dihitung di antara bangsa-bangsa kafir.
>> Galatia
2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa
kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan
kebenaran
Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika
engkau,
seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi,
bagaimanakah
engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat
untuk
hidup secara Yahudi?"
Di zaman Kristen,
istilah itu sudah YESUS peti eskan, sudah tidak boleh digunakan lagi;
>> Matius 5:22 Tetapi
Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya
harus
dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus
dihadapkan
ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus
diserahkan ke dalam neraka yang
menyala-nyala.
Jadi, kalau anda
menyebut saya kafir, menurut ayat itu saya berhak menuntut anda ke mahkamah
agama. Artinya,
janganlah mengata-ngatai orang sesuka hatinya sendiri. Harus ada rasa keadilan
dan kebenarannya.
Karena itu, kalau
orang Yahudi atau Kristen, mendengar kata-kata "kafir," otomatis yang
terbayang dalam
pikiran mereka adalah tentang orang-orang non Yahudi, termasuk bangsa Arab.
Bahkan bangsa Arab
sendiri yang hidup sebelum zamannya Muhammad, pasti paham dengan
istilah tersebut.
Sebab Injil sudah masuk negeri Arab sejak tahun 185 Tarikh Masehi, sudah
diterjemahkan ke
bahasa Arab.
Jadi, kalau kita
tanyakan ke orang-orang Arab yang hidup di zaman sebelum Muhammad; apakah
kafir? Mereka
pasti akan menjawab; kafir adalah orang-orang non Yahudi, termasuk kami, bangsa
Arab adalah kafir.
Berarti telah
terjadi pembelokan arti oleh Muhammad. Ini namanya menyesatkan. Jika "A"
dibilang "B" itu
namanya menyesatkan. Karena itu mari kita mempelajari agama dengan baik dan
benar.
Kesalahan ini
bisa berakibat saling tuding-menuding antara agama-agama, jika masing-masing
agama menyebut
agama lainnya sebagai: "kafir." Padahal "kafir" artinya bukan orang-orang
yang beragama non
Islam atau non Hindu atau non Buddha, tapi non penyembah YAHWEH.
Sekarang, mari
kita mencoba bertanya kepada orang-orang yang hidup di zaman peralihan Islam.
Apa pendapat
mereka tentang "kafir" jika mereka membaca kitabnya Muhammad, Al Qur'an?
Mereka pasti akan
berkata: "Tidak benar jika kafir itu orang-orang non Islam." Apa sebab mereka
berkata begitu?
Sebab mereka hidup di zaman yang lebih dekat dengan kebenarannya. Berbeda
dengan kita yang
hidup di zaman "kekeliruan Muhammad." Kita kini telah memakan racunnya
Muhammad, jika
berpikir bahwa kafir itu non Islam.
Sangat tidak fair
jika kita tidak bertanya pada orang-orang yang hidup di zaman peralihan Islam.
Sebab mereka itu
saksi kebenaran.
2. Yahudi dan Nasrani meneror Islam;
Maaf, saya harus
meninjau ini dari sudut kebenarannya. Saya tidak boleh mengenakan kacamata
yang salah sebagai
ukurannya.
Anda menyebut
Yahudi. Siapakah yang anda maksud Yahudi? Orang berkulit Yahudi atau orang
beragama Yahudi?
a. Orang berkulit
Yahudi;
Orang yang
berkulit Yahudi itu agamanya macam-macam; ada yang beragama Yahudi, ada yang
Kristen Minggu,
ada yang Kristen Sabtu, ada yang Katolik, bahkan ada yang Islam. Yang
manakah yang
anda maksud?
Yang saya
tekankan adalah orang Yahudi yang beragama Kristen Sabtu. Kalau yang beragama
lainnya bukan
urusan saya dan saya anggap wajar kalau mereka itu jahat, sebab agamanya saja
sudah bukan
agama yang benar. Karena itu kalau ada kelompok Yahudi Kristen Sabtu yang
melakukan
kejahatan terhadap Islam, beritahukan pada saya, dan saya akan nyatakan kalau
yang begitu itu
tidak benar. Saya tidak akan memukul mereka, sebab memukul itu haknya
TUHAN. Dan jika
anda hendak memukul mereka, saya persilahkan, sebab mereka memang salah.
Jadi, saya tidak
mungkin membela mereka yang memang salah. Sebab membela orang yang salah
membuat kita
ikut bersalah. Saya tidak mau ikut ambil bagian dalam permufakatan orang-orang
yang salah.
b. Orang beragama
Yahudi;
Orang yang
beragama Yahudi adalah penolak agama Kristen dan termasuk golongan yang
menyalibkan
YESUS. Bagaimana saya akan berpihak kepada orang yang dimusuhi ALLAH?!
c. Orang Kristen;
Saya membagi orang Kristen dalam 2 golongan,
yaitu Kristen Sabtu dan Kristen Minggu. Posisi
saya bersama dengan orang-orang Kristen yang
Sabtu, bukan yang Minggu. Nah, kalau ada
Kristen Sabtu yang melakukan yang anda
tuduhkan, beritahukan pada saya, maka saya atas
nama Alkitab
akan nyatakan itu salah. Tapi saya tidak tahu, apakah anda akan memakai konsep
awur-awuran,
yaitu memusuhi semua orang Kristen?
Alkitab tidak
mengajarkan teror.
d. Alkitab atau
orangnya?
Saya membagi
persoalan ke dalam 2 kelompok, yaitu Alkitabnya dengan orangnya.
Sebab
seringkali perbuatan orang itu berbeda dari ajarannya. Nah, siapakah yang anda
maksud
dengan Kristen
itu? Ajarannya atau orangnya? Jika ajarannya, tolong beritahukan kepada saya,
maka akan saya
nyatakan sebagai ajaran yang tidak benar itu. Tapi kalau orangnya, ya jangan
anda bilang Kristen, donk. Sebab Kristen
itu tentang ajarannya bukan tentang orangnya.
Jadi, saya
harus protes dengan sebutan anda: Yahudi dan Kristen. Sebab Yahudi dan Kristen
itu
agama atau
ajaran.
e. Alkitab dengan
Al Qur'an;
Kalau orang
yang bersalah yang anda musuhi, saya tidak bisa apa-apa, sebab salah. Tapi
kalau
Alkitabnya
yang anda persalahkan, bukankah menurut anda posisi Alkitab sudah digantikan
dengan Al
Qur'an? Jadi, apa perlunya mempersalahkan Alkitab lagi, jika persoalannya sudah
diatasi dengan
turunnya Al Qur'an?
Dengan
demikian kalau anda bermaksud memusuhi saya karena saya Kristen, jelas anda
ngawur sekali.
Sebab saya tidak berdiri bersama dengan orang-orang Kristen yang salah. Saya
berdiri di
atas kebenaran. Jadi, anda sedang memusuhi orang benar, kalau anda memusuhi
saya, bukan?!
3. Pertukaran pelajar;
Siapakah yang anda
tuduh melakukan pertukaran pelajar? Apakah saya melakukan itu?
4. Riset dan penelitian ilmiah;
Siapakah yang anda
tuduh melakukan riset dan penelitian ilmiah? Apakah saya melakukan itu?
5. Membunuhi kaum Muslim;
Siapakah yang anda
tuduh melakukan pembunuhan Muslim? Apakah saya melakukan itu?
Jadi, kalau saya
tidak melakukan semua yang anda tuduhkan itu, tidak memenuhi syarat jihad
perang anda, maka
anda hendak berangkat berperang ke mana? Siapa sasaran anda? Atau anda
sedang membuat
proposal yang tidak lengkap?
Anda sedang
mengumpulkan pasukan perang. Apakah mereka akan berperang sendiri-sendiri
tanpa diorganisirkan?
Bagaimana dananya? Siapa panglimanya? Mereka harus mendaftarkan diri
ke mana?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TULIS
BUNG LONTAR:
Karena hakekat hidup si kafir
penakut yang tidak berani menampilkan identitasnya ini telah mengganggu saya
dengan email2 kekafirannya, maka silahkan menyimak balasan nya dari saya.
InsyaAllah selama saya tidak diremove dari grup kafir ini, maka saya rutin akan
memberikan kajian-kajian islam di grup ini.
RAHASIA
YANG HARUS DIKETAHUI KAUM MUSLIMIN
Oleh
Ustadz Abu Qotadah
وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَّذِيرًا فَلَا تُطِعِ
الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
"Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap
negeri seorang yang memberi peringatan (rasul) Maka janganlah kamu mengikuti
orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur`an dengan
jihad yang besar". [Al Furqon : 51-52]
Surat ini dikategorikan sebagai surat Makkiyah, yaitu turun ketika Nabi n masih
di Mekkah. Rahasia pertama ayat ini menunjukkan, bahwa makna jihad dalam ayat
ini ialah jihad dengan menegakkan hujjah dan argumentasi terhadap orang kafir,
yakni dengan menyampaikan Al Qur`an, sebagaimana berjihad melawan orang munafik
hanyalah dengan menegakkan hujjah, menunjukkan kepada kebenaran dan membantah
kebatilan.
Adapun rahasia yang kedua, bahwa Allah memerintahkan jihad (berperang dengan
pedang dan kekuatan) melawan orang-orang kafir, yaitu setelah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam dan para sahabat memiliki syarat-syarat untuk menegakkan
jihad. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat
tidak diperintahkan berjihad ketika Beliau di Mekkah, karena saat itu mereka
berada di bawah kekuasaan musuh. Dan setelah Beliau di Madinah dan telah
memiliki persiapan untuk berperang, maka syariat berjihad diperintahkan.
Ketahuilah wahai kaum muslimin, semoga Allah senantiasa merahmati kita. Tidak
mungkin kaum Muslimin bisa memerangi orang kafir, kecuali dengan persiapan dan
senjata. Sebagai pelajaran, Allah telah menjelaskan keberadaan orang-orang
munafik yang enggan berangkat berperang, sehingga mereka tidak mengadakan
persiapan. Allah berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللهُ
انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk
keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah
melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu
bersama orang-oang yang tinggal itu". [At Taubah : 46].
Lalu Allah memerintahkan kepada para mujahidin agar mengadakan persiapan
perang. Allah berfirman.
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ
تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ ...
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan
persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah ……" [Al Anfal : 60]
Ingatlah, orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani atau yang lainnya,
mereka akan senantiasa meneror dan membikin makar terhadap kaum muslimin dari
dua sisi.
Pertama : Teror pemikiran (irhab fikri). Yaitu usaha orang-orang kafir untuk menggelincirkan
kaum Muslimin dari kemurnian ajaran agama yang haq ini. Mereka melontarkan
syubhat-syubhat, tadlis (pemalsuan), talbis (kerancuan), sehingga bisa
menumbuhkan sikap keragu-raguan kaum muslimin terhadap kebenaran ajaran Islam.
Program ini dikemas dengan dukungan dana yang dikucurkan kepada kalangan ahli
bid'ah yang telah menyeru manusia ke jurang api neraka.
Untuk menyempurnakan programnya ini, mereka menempuh berbagai cara. Di
antaranya :
1. Pertukaran pelajar, sebagai sarana pencucian otak anak-anak kaum Muslimin.
Sehingga setelah pelajar-pelajar Islam ini pulang, akan menjadi pion
mempropagandakan syubhat-syubhat.
2. Orientalis, dari sinilah musuh-musuh Allah melakukan gerakan-gerakan
tersembunyi dengan dalil riset dan penelitian ilmiyah. Para orientalis tersebut
bekerja untuk kepentingan intelejen Kristen dan Yahudi.
Kedua : Teror fisik (irhab jasadi). Yaitu usaha orang-orang kafir untuk
membunuh kaum Muslimin, menguasai negara-negara Islam, menguasai perekonomian
kaum Muslimin serta menjajah negara-negara Islam.
Maka menjadi kewajiban kaum Muslimin untuk melakukan persiapan agar mampu
menegakkan tugas jihad ini, sehingga kaum Muslimin bisa mencapai kejayaan.
Karena telah menjadi ketentuan Allah, bahwa segala akibat ada sebabnya.
Wahai kaum muslimin, semoga Allah merahmati kita. Kita memiliki keinginan yang
sama untuk menegakan panji jihad dan menegakkan panji-panji Allah di muka bumi
dan merindukan kemenangan. Untuk mengemban tugas ini, Allah telah mensyaratkan
bagi kita dua hal. Barangsiapa yang dapat memenuhinya, maka ia akan sampai
kepada apa yang diinginkannya. Kedua syarat tersebut ialah :
Pertama : Al i'dad al imani (mempersiapan kekuatan iman), hal itu karena Allah
telah memberikan jaminan kemenangan bagi ahli iman.
Kedua : Al i'dad al madi (mempersiapkan perbekalan materiil), meliputi
mempersiapan perlengkapan senjata dan sejenisnya, yang merupakan syarat penting
untuk melawan mereka. Allah berfirman, yang artinya: "Dan persiapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda
yang ditambat untuk berperang yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan
musuh Allah". [Al Anfal 60].
Dari dua syarat ini, al i'dad al imani harus lebih didahulukan daripada al
i'dad al madi. Rasul yang mulia telah menempuh jalan ini dan telah
menyempurnakannya.
TENTANG AL I'DAD AL IMANI
Al i'dad al imani adalah takwa kepada Allah. Takwa merupakan persiapan pertama
dan utama, karena Allah telah menjanjikan kemenangan, dan akan memberikan
pertolongan hanya kepada orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman :
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لاَنَسْئَلُكَ رِزْقًا
نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah
kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang
memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang
bertakwa". [Thaha:132]
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ اْلأَرْضَ للهِ
يُورِثُهَا مَن يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan
bersabarlah; dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari
hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang
bertakwa". [Al 'A'raf:128]
إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang
berbuat kebaikan" [An Nahl:128].
Rukun Takwa
Rukun takwa ada tiga. Pertama, al ikhlash (tauhid) memurnikan ibadah hanya
kepada Allah. Kedua, al ittiba' (mengikuti Rasulullah). Ketiga, ilmu.
Berkaitan dengan pentingnya dan keutamaan ikhlas (tauhid) ini, Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam tidak mendiamkan pelanggaran terhadap tauhid, meskipun dalam
peperangan.
At Tirmidzi telah meriwayatkan dari sahabat Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata:
Suatu saat kami pergi bersama Rasulallah ke Hunain, sedangkan kami dalam
keadaan baru lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Ketika itu orang-orang
kafir musyrikin mempunyai sebatang pohon bidara yang disebut Dzatu Anwath.
Mereka selalu mendatanginya dan menggantung senjata-senjatanya pada pohon itu.
Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kamipun berkata: "Wahai
Rasulullah! Buatkan untuk kami Dzat Anwath," maka Rasulullah bersabda:
سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا
لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ
"Allahu Akbar. Itu adalah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Demi Allah,
yang diriku berada di tanganNya. Kamu benar-benar telah mengatakan sesuatu
perkataan seperti yang telah dikatakan Bani Israil kepada Musa,"Buatlah untuk
kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sembahan". Musa
menjawab,"Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak mengerti. Pasti kamu
akan mengikuti tradisi orang-orang sebelummu". [HR Tirmidzi].
Seandainya para aktifis pergerakan dan juru dakwah saat ini mencermati
kandungan dan rahasia yang terdapat dalam hadits ini, tentulah mereka tidak
akan meremehkan perkara tauhid dengan alasan ingin mendapatkan jumlah pendukung
yang banyak dan menyatukan kaum Muslimin. Lihatlah, apa yang diperbuat Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam ; Beliau tidak berdiam diri untuk tidak
mengingkari kemusyrikan karena ingin mempertahankan jumlah yang banyak, atau
alasan khawatir akan terjadi perpecahan. Sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam yang mulia mengetahui, seandainya orang-orang yang baru masuk Islam itu
didiamkan dalam keadaan musyrik, tentulah mereka akan menjadi fitnah bagi kaum
Muslimin, dan menjadi penyebab utama kekalahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Mengajarkan Tauhid Dalam Jihad Difa'
Saat itu kaum Muslimin di Syam sedang dalam cengkeraman orang-orang Tartar yang
begitu kuat. Kaum Muslimin pun bangkit melancarkan jihad difa' (defensive),
sementara itu kesyirikan berada di tengah-tengah mereka.
Dalam keadaan seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memulai dengan
terlebih dahulu meluruskan aqidah ummat, menyeru kepada tauhid. Beliau
rahimahullah menulis sebuah buku yang berjudul Talkhish Kitab lstigatsah,
dimaksudkan sebagai bantahan terhadap Al Bakri.
Syaikhul Islam berkata: "Seandainya mereka yang beristigatsah dengan selain
Allah (yaitu penghuni-penghuni) kubur bersamamu dalam barisan perang, tentulah
engkau akan mendapatkan kekalahan, sebagaimana kaum Muslimin mendapatkan
kekalahan dalam perang Uhud".
Pernyataan Syaikhul Islam lbnu Taimiyah ini mengandung dua faidah yang besar.
Pertama. Wajib dan betapa pentingnya meluruskan aqidah kaum Muslimin yang
hendak berjihad. Kedua. Menunjukkan kefaqihan beliau rahimahullah, karena
beliau telah berdalil untuk perkara yang besar dengan perkara yang rendah.
Maksudnya, apabila kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud disebabkan maksiat
semata dan bukan karena syirik, maka bagaimana mungkin kaum Muslimin pada hari
ini mampu berperang mengalahkan musuh, seandainya di dalam barisan kaum
Muslimin terdapat orang-orang yang menyekutukan Allah, melakukan bid'ah dan
perbuatan maksiat lainnya.
Ingatlah, kemenangan dan pertolongan hanya diberikan kepada orang-orang yang
bertauhid dan mengamalkan Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم
مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَيُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن
كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan)
mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka
tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang
fasik". [An Nur : 55].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, setelah kaum muslimin
meluruskan aqidah mereka dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, hanya
beristighatsah kepada Allah, maka Allah akan menolong mereka untuk mengalahkan
musuh, sehingga mereka mendapatkan berbagai kemenangan dalam peperangan
(melawan Tartar); suatu kemenangan yang tidak pernah didapatkan sebelumnya,
kecuali setelah mereka memurnikan tauhid kepada Allah dan taat kepada RasulNya.
Karena sesungguhnya Allah akan memberikan pertolongan kepada RasulNya dan
orang-orang beriman di dunia dan di akhirat.
Dalam kisah perang Uhud, kita dapat mengambil pelajaran berharga berkaitan
dengan sebab-sebab kekalahan kaum Muslimin pada waktu itu. (Lihat surat Ali
Imran ayat l37-l54).
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ (وفي رواية - يُقَاتِلُونَ )
عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
وَهُمْ كَذَلِكَ
"Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran
(dalam hadits lain dengan kata mereka berperang di atas kebenaran), tidak
merugikannya orang yang menghinanya sampai datang hari kiamat, dan mereka tetap
dalam keadaan demikian hingga kiamat datang". [HR Muslim].
Derajat Yang Tinggi Hanya Dapat Diraih Dengan Ilmu
Allah berfirman :
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". [Al
Mujadilah : 11]
Al Imam Muhammad Amin Asy Syinqiti berkata: "Para ulama telah menjelaskan,
kemenangan para nabi ada dua macam. Pertama. Kemenangan melalui hujjah dan
argumentasi. Kemenangan ini diraih oleh seluruh nabi. Kedua. Kemenangan dengan
pedang dan kekuatan. Kemenangan ini hanya diraih oleh nabi yang telah
diperintahkan berperang fi sabilillah". (Adhwa-ul Bayan, 1: 353).
TENTANG AL I'DAD AL MADI
Disamping mempersiapkan aqidah dan ilmu untuk meraih derajat yang tinggi, dalam
jihad juga harus dilakukan persiapan-persiapan. Yaitu al i'dad al madi
(persiapan materi), yang meliputi dua perkara. Pertama. 'Udah al 'asykariyah
(perlengkapan senjata). Kedua. 'Udah al basyariah (perlengkapan pasukan atau
personalnya). Allah berfirman, yang artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat
untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, (QS
Al Anfal : 60) Lihat juga Al Anfal ayat 65-66.
Syaikh Muhammad Shalih Al 'Utsaimin menyatakan, berjihad itu harus terpenuhi
syaratnya. Hendaknya kaum Muslimin memiliki kemampuan dan kekuatan, yang
dengannya mereka bisa berjihad. Karena, seandainya kaum Muslimin berperang
tanpa dibarengi dengan kernampuan, berarti sama dengan menjerumuskan diri ke
dalam kerusakan. Oleh sebab itu, Allah tidak mewajibkan kepada kaum Muslimin
berperang, ketika mereka berada di Mekkah, masih dalam keadaan lemah dan dalam
cengkeraman kekuasaan orang kafir. Sehingga setelah berhijrah ke Madinah dan
membentuk negara Islam dan memiliki kekuatan, maka Allah Azza wa Jalla
mewajibkan mereka berperang.
Begitulah, jika belum terkumpul syarat-syaratnya, maka kewajiban berperang
tidak ada, sebagaimana seluruh kewajiban dilakukan sesuai kemampuan. Yang
sekarang harus ditempuh oleh kaum Muslimin ialah melakukan seluruh sebab-sebab
yang telah diwajibkan Allah untuk mencapai kemenangan, yaitu menyerpurnakan dua
persyaratan di atas. Wallahu a'lam.
Maraji' :
1. Zadul Ma'ad, Jilid III, karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah.
2. Al Mughni, karya Imam Syaukani.
3. Al Majmu', karya Imam An Nawawi.
4. Fatawa Al Laimah Fi Masailil Mulimmah, karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al Fauzan.
5. Usus Manhajis Salaf Fi Ad Dakwah Ilallah, karya Fawaz bin Halil bin Robah As
Suhaimi.
6. Sabil Ilal Izzah Wat Tamkin, karya Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
>>Surat-menyurat : hakekathidupku@yahoo.co.id, hakekatku_00@yahoo.co.id, hakekatku_05@yahoo.co.id, hakekathidup_h5@yahoo.co.id, hakekathidupku_nolnol@yahoo.co.id, newhakekatku@yahoo.co.id, >>Milis Group : hakekatku_00@yahoogroups.com, http://groups.yahoo.com/group/hakekatku_00/ newhakekatku@yahoogroups.com, http://groups.yahoo.com/group/newhakekatku/ >> Bl o
g : http://bloghakekatku.blogspot.com
[Non-text portions of this message have been removed]
DENGAN FEE PALING COMPETITIF
UNTUK INFORMASI HUBUNGI (021)789 2012 /98225937
JASA OUTPLACEMENT HUBUNGI Amy at (021) 7892012
Human Capital Indonesia:
fseskadevi@hmc.co.id /info@hmc.co.id
High Management Consultant
Phone (62 21) 7892012, 9822-5937,
Fax (62 21) 789 2124
pemasangan iklan/posting dari para member diluar tanggung jawab dari Owner mailing list ini. Berhati-hatilah dengan iklan lowongan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar